Berita

 Network

 Partner

Para pemateri dalam acara Seri Diskusi Pengelolaan Produk Inovatif Pangan Papua: Festival Torang Pu Para Para, Senin (16/8).

Upaya Jaga Alam Papua, Program PAPeDA Inisiasi Produk Inovatif Berbahan Sereh Wangi

Berita Baru, Jakarta – Dalam upaya melestarikan hutan dan sumber daya alam (SDA) yang melimpah di Papua, khususnya di Kabupaten Keerom, Program Pertanian Berkelanjutan di Tanah Papua (PAPeDA) berinisiatif menciptakan produk-produk inovatif pangan sereh wangi yang bisa meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

Program PAPeDA bertujuan untuk mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi Papua dengan lebih mengandalkan partisipasi masyarakat secara keseluruhan, pelaku bisnis, pemerintah daerah, dan lembaga ekonomi pemerintah kampung (seperti: Badan Usaha Milik Kampung/BUMKam).

Direktur Konsultasi Independen Pemberdayaan Rakyat (KIPRa) Irianto Jacobus selaku pendamping Program PAPeDA melihat terdapat banyak potensi alam di daerah Kabupaten Keerom yang melimpah tetapi keseharian masyarakat masih belum berkembang dengan baik.

“Kami [Yayasan KIPRa Papua] melihat di Kabupaten Keerom bahwa eksploitasi masih terus berlangsung dari beberapa perusahaan yang mengambil hasil hutan, tapi kemudian di sisi lain kehidupan masyarakat adat yang ada di Kabupaten Keerom ini dalam kesehariannya itu belum begitu berkembang dengan baik,” terangnya pada saat menjadi pemateri dalam Seri Diskusi Pengelolaan Produk Inovatif Pangan Papua: Festival Torang Pu Para Para, Senin (16/8).

Ia menilai banyak lahan-lahan di Keerom untuk bisa dikembangkan sekaligus mampu meningkatkan perekonomian masyarakat setempat melalui budidaya sereh wangi. “Kita juga tahu bahwa pengembangan Sereh wangi merupakan tanaman yang baik dan tidak sulit,” jelasnya.

Lebih lanjut, produk inovatif pangan Sereh Wangi Keerom ini berupaya untuk menjaga kelestarian hutan dan SDA, khususnya di Keerom.

“Karena beberapa anggota masyarakat juga turut untuk mengambil hasil hutan dan juga dipakai oleh beberapa industri kayu oleh sebab itu kami memandang bagaimana supaya hutan dan alam ini bisa terjaga terlindungi tetapi juga di sisi lain masyarakat juga mendapatkan manfaat ekonomi,” ujar Jacobus.

Pada gilirannya, Founder Niora Indonesia Eet Etih Suryatin menjelaskan bahwa pemanfaatan hasil dari sereh wangi ini pun beragam.

“Pengalaman saya dari Keerom itu, setelah berdiskusi dengan teman-teman dan perusahaan, bahwa memang produk sereh wangi ini dapat diolah menjadi berbagai macam produk, yaitu misalnya minyak astiri, sabun tangan, sabun cuci piring, atau cuci tangan, juga anti nyamuk, dan bisa juga misalnya yang sekarang paling banyak dicari handsanitizer,” jelas Eet Suryatin, dalam seri diskusi yang sama.

Kenapa Sereh Wangi?

Program PAPeDA yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) dan didukung oleh The Asia Foundation (TAF) telah menghasilkan beberapa produk pangan inovatif bernilai ekonomi tinggi, seperti balsem cair, keladi, dan sebagainya. Namun, kali ini, PAPeDA akan mengembangkan produk pangan inovatif dari sereh wangi.

Pengagas produk sereh wangi Keerom, Arie Sutte mengatakan bahwa untuk memilih produk sereh wangi tersebut melalui proses panjang.

“Awalnya bukan hanya sereh wangi, ada Nilam ada dan sebagainya. Tapi dari proses konsultasi dengan berbagai pihak, akhirnya muncullah tanaman serah wangi ini,” tuturnya, Senin (16/8).

Lebih lanjut, Arie Sutte menjelaskan beberapa perimbangan kenapa pihaknya memilih produk sereh wangi, di antaranya adalah faktor iklim.

“Dari segi iklim, tanaman sereh ini, saya kira sudah diketahui umum, sudah sangat cocok untuk iklim di wilayah Keerom,” ucapnya.

Selain faktor, ekonomi faktor sosial budaya juga menjadi salah satu pertimbangan pemilihan tanaman sereh.

“Tanaman sereh ini bukan tanaman yang langka atau asing bagi mereka [masyarakat Keerom], karena selama ini mereka sudah banyak mengusahakan dalam bentuk menanam saja, tapi belum dalam sekalah besar seperti yang kita programkan,” jelasnya.

Selain itu, Arie Sutte juga mengatakan bahwa sudah ada stakeholder lain yang sudah bergerak atau menanam tanaman sereh di Keerom sebelum program PAPeDA.

“Sebelum program PAPeDA atau Yayasan KIPRa ini merencanakan pengembangan sereh wangi, ternyata kita menemukan stakeholder dari Bappeda Keeom itu sudah menanam. Sudah ada 20 ha lebih. Dan ini sangat mendukung, apalagi tadi pak Triono bilang belum ada penyulingan,” ungkapnya.

Permintaan Sereh Wangi di Masa Pandemi

Eet Etih Suryatin menjelaskan bahwa pada dasarnya pasar dari produk sereh wangi ini sangat luas, bahkan bisa merambah pasar ekspor.

“Yang saya pelajari, di sekitar tahun 2007-an, tren untuk ekspor ini sangat tinggi, pasar juga luas. Di Jepang agak tinggi,” tuturnya.

Ia juga memaparkan bahwa sereh wangi ini sangat potensial untuk industri-industri astiri, kimia, aroma terap, farmasi, hingga ke kosmetik. Ia mencontohkan misalnya perusahaan Marta Tilaar, yang juga menggunakan sereh wangi.

Namun, Eet Etih Suryatin itu juga mengatakan bahwa pandemi COVID-19 yang berkepanjangan juga mempengaruhi budidaya sereh wangi, terutama dalam hal permintaan pasar.

“Dalam masa pandemi, turun untuk permintaan [sereh wangi]. Khususnya untuk produk-produk yang sifatnya lebih ke kecantikan. Jadi, sekarang itu yang lebih dicari adalah justru untuk kesehatan dan untuk minuman yang yang bisa mendorong kita meningkatkan ke imun,” terangnya.

Tantangan ke Depan

Dalam mendampingi budidaya sereh wangi pada masyarakat Keerom, Irianto Jacobus mengatakan bahwa beberapa kesulitan dan tantangan ke depan.

“Tantangan awal itu ke bagaimana sebenarnya kita merubah mindset atau pola pikir dari masyarakat, yang selama ini melakukan pertanian subsistem, yang bergantung pada pengolahan alam, ke pertanian budidaya karena sereh wangi ini kan budidaya,” jelasnya.

Irianto Jacobus menekankan pihaknya tidak hanya mengedukasi dan memberi informasi kepada masyarakat, tapi juga harus memberikan semacam pandangan bahwa ‘dengan budidaya sereh wangi ini akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dari sisi ekonomi’.

“Masyarakat cenderung untuk mendapatkan uang secara tunai. Lah bagaimana kita memberikan pembelajaran atau edukasi dan mindset bahwa sereh wangi ini akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dari sisi ekonomi, meskipun budidaya ini ada prosesnya kurang lebih enam bulan baru bisa disuling dipanen disuling seperti itu,” terangnya.

Tidak hanya itu, tantangan ke depan yang dihadapi dalam budidaya sereh wangi ini adalah terkait konservasi alam dan hutan.

“Kita memecah juga konsentrasi masyarakat yang ada. Sebagian masyarakat main ke kayu, pengambilan kayu, lha kita coba menarik mereka untuk bersama-sama mengelola lahan terbengkalai yang ada dengan menanam tanaman sereh wangi ini, hingga alam akan tetap terjaga dan lestari,” paparnya.

Dalam pelaksanaannya, ketika berbicara dengan warga setempat, pihaknya juga harus lebih berhati-hati agar tidak menciptakan kesalahpahaman.

“Ketika berbicara harus lebih hati-hati dan detil, karena penguasaan lahan ini bukan milik perseorangan atau individu, tapi lebih kepemilikan bersama komunitas. Lah, oleh sebab itu, bagaimana kita mendekati mereka, menjelaskan dengan baik kepada mereka, hingga kemudian mereka mau bekerja sama dengan suka rela, itu menjadi sangat penting. Sehingga kita semua bisa bersama-sama menggunakan hamparan lahan untuk dimanfaatkan bersama dalam melakukan pengembangan budidaya tanaman sereh wangi,” ungkapnya.

Di samping itu, modal sosial juga menjadi catatan penting Irianto Jacobus dalam mendampingi masyarakat Keerom dalam menjaga dan melestarikan alam melalui budidaya sereh wangi.

“Modal sosial juga kita dorong. Artinya dari sisi aset tanah masyarakat sudah punya, di modal sosial yang lain kita coba berikan kepada mereka, bahwa kerjasama gotong-royong dan saling membantu satu dengan yang lain ini menjadi penting. Sehingga ketika membuka lahan itu perlu tenaga bersama sama,” pungkasnya.