Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Yayasan Titian
Logo Yayasan Titian

Gelar Pemeran dan Diskusi Panel, Yayasan Titian Temukan Tantangan Daya Saing Produk Lokal dengan Produk dari Luar Pulau

Berita Baru Kalbar, Pontianak – Selama 18 bulan terakhir, Yayasan Titian Lestari beraktivitas di 8 desa yang tersebar di dua kabupaten, yaitu di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara.
 
Hadirnya Titian, dengan program “Berkontribusi pada Pembangunan Emisi Rendah dengan Meningkatkan Kebijakan Penggunaan Lahan dan Memperkuat Pengelolaan Hutan Berkelanjutan Berbasis Masyarakat melalui Pendekatan Landscape di Kabupaten Ketapang” yang didukung oleh Climate and Land Use Alliance.
 
Berbagai potensi dan produk yang terdapat di desa-desa ini, dapat dilihat dalam kegiatan pameran dan diskusi panel bersama Pemerintah Daerah, Pihak Swasta, dan Kelompok Pengelola Hutan di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara yang berlangsung pada 31 Maret 2022 di Hotel Grand Zuri Ketapang.
 
Direktur Yayasan TITIAN Lestari, S. Martin Gillang mengatakan, potensi dan produk ini meliputi destinasi wisata, ternak, produk agroforestri, dan potensi hasil hutan bukan kayu lainnya seperti sari buah nanas, kopi, gula lali (gula aren cair), gula kerek (gula aren), dan produk anyaman lainnya.
 
Selain potensi dan produk dari desa dampingan, Balai Taman Nasional Gunung Palung, Yayasan Palung, Yayasan Tropenbos Indonesia dan Yayasan Bambu Lestari juga turut meramaikan pameran ini.
 
“Produk-produk yang ditampilkan juga merupakan hasil hutan bukan kayu unggulan desa dampingannya seperti Eco-print, berbagai produk anyaman, dan lain-lain,” paparnya.
 
Diskusi panel yang dilaksanakan mengundang Syamsul Irawan dari Dinas Lingkungan Hidup Kalimantan Barat selaku pemangku kebijakan, Sosimus Yuto dari pihak swasta yang kerap kali membantu masyarakat di sekitar perusahaannya dalam bentuk CSR, dan Iskandar sebagai Ketua LPHD Sembelangaan yang bercerita tentang perjalanannya membangun kelembagaan pengelola hutan desa untuk memantik diskusi bersama para pihak yang dihadirkan.

Tantangan terbesar dari produk kerajinan hasil masyarakat setempat memang daya saing dengan produk dari luar pulau dari segi kreativitas dan harga jual serta cenderung hanya ada pada saat pameran saja.
 
Tantangan ini menjadi PR setiap pihak untuk meningkatkan daya saing dan daya tarik pembeli.
 
Nur Fadli, BAPPEDA Kab. Ketapang berpendapat produk-produk dari masyarakat ini dapat dibantu pemasarannya melalui Dinas Koperasi UKM, Perindustrian, dan Perdagangan serta setiap mitra-mitra yang ada di Kabupaten Ketapang.
 
Hal ini diamini oleh Kepala Bidang Perindustrian yang turut hadir dalam kegiatan hari ini mengenai perijinan industri dan penjualan produk.