Berita

 Network

 Partner

stunting
pixabay

Berbahagia, Kunci Mencegah Stunting

Menjadi orangtua adalah sebuah pekerjaan sepanjang hayat, tidak ada sekolahnya namun mewajibkan seseorang untuk terus belajar. Tidak terkecuali bagi generasi yang lahir pada rentang tahun 1980-an sampai 1990-an, atau yang kerap dinamakan generasi milenial. Generasi ini yang sekarang mendominasi sebagai orang tua-orang tua baru.

Meski marak sekolah parenting baik online atau offline. Namun, tidak pernah benar-benar memberikan gambaran riil tentang permasalahan di dalam dunia pengasuhan. Karena pengasuhan sendiri sangat dinamis sesuai dengan usia perkembangan anak.  

Permasalahan yang harus diwaspadai orangtua milenial ini adalah bayang-bayang penyakit yang mengintai buah hati, salah satunya adalah stunting. Indonesia sendiri pada tahun 2017 berada pada urutan ke lima, Negara dengan jumlah anak terbanyak mengidap stunting. Padahal kita tahu sendiri bahwa stunting adalah kondisi yang tidak diharapkan oleh orangtua manapun.

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi pada rentang waktu yang cukup lama. Kemudian dikhususkan menjadi 1000 hari pertama kehidupan seorang anak, mulai dari dalam kandungan hingga berusia dua tahun.

Lebih fatal lagi, stunting tidak hanya menyebabkan hambatan pada pertumbuhan fisik seorang anak. Namun, melibatkan kemampuan berfikir hingga dewasa kelak. Terutama fase yang terdekat adalah fase sekolah, anak-anak yang mengidap stunting akan kesulitan dalam belajar di kelas, mengikuti perkembangan anak seusianya. Juga bisa menjadi faktor risiko diabetes, hipertensi, obesitas dan kematian akibat infeksi.

Oleh karena itulah, pemerintah memberikan perhatian yang sangat besar untuk mengedukasi masyarakat dalam pencegahan stunting. Program tersebut terpusat pada tiga hal yaitu perbaikan sanitasi dan MCK (yang di beberapa daerah terpencil di Indonesia masih sangat memprihatinkan), perbaikan gizi yang ditekankan pada pola makan gizi seimbang pada ibu hamil dan bayi. Serta pola asuh untuk menciptakan perilaku hidup sehat fisik dan mental pada keluarga.

Berdasarkan riset pustaka dan konsultasi pada teman yang berprofesi sebagai psikolog puskesmas, bidan hingga dokter. Saya membuat kesimpulan bahwa orangtua harus menentukan visi misi sebelum kelahiran anak. Saya rasa hal ini sangat penting, sebab seorang anak harus tumbuh dalam koridor yang jelas. Terlebih pada masa golden age. Seperti yang kita ketahui, betapa banyak perilaku abnormal pada masa dewasa yang tumbuh sejak masa anak-anak, mereka yang haus perhatian, mendapat pola asuh ototriter atau justru bersumber dari orangtua yang cenderung permisif.

Menemani anak tumbuh menjadi individu yang sehat fisik, mental, sosial, dan spiritual.

Sebaris kalimat di atas harus menjadi patokan utama dalam menjalani profesi sebagai orangtua. Visi tersebut mulai ditetapkan sejak awal kehamilan. Karena Ibu adalah satu-satunya manusia yang bisa berkomunikasi intens dan memberi asupan pada janin. Oleh karena itulah, seorang Ibu hamil harus hati-hati dalam memilih makanan. Memastikan apakah makanan yang dikonsumsi bisa memenuhi gizi yang dibutuhkan oleh janin. Makanan yang mengandung zat besi, kalsium, yodium, kolin, DHA, vitamin C, vitamin D, Asam folat, dan omega 3 merupakan makanan wajib yang harus dikonsumsi. Tidak harus mahal, tidak harus mengkonsumsi ikan salmon setiap hari! Banyak jenis ikan laut lain yang memiliki kandungan sama, tuna, ikan kembung, bahkan sayuran seperti brokoli, sawi, kacang-kacangan dan tempe. Tak lupa vitamin dan tablet tambah darah yang diberikan dokter puskesmas.

Selain itu, seorang ibu harus bahagia! Itulah yang perlu ditanamkan sejak awal kehamilan. Sebab, emosi bisa ditransfer pada lingkungan, lebih-lebih pada janin. Ketika stress dan diliputi emosi negatif, tubuh memproduksi hormon stress yaitu epinephrine dan norepinephrine yang berefek mengencangkan pembuluh darah dan mengurangi suplai oksigen ke rahim. Oleh karena itulah, seorang ibu hamil harus berusaha rileks selama kehamilan. Selain itu, demi menghindari pikiran-pikiran negatif soal persalinan, berusahalah mendekatkan diri pada Tuhan, mendengarkan murotal Al-qur’an misalnya, melakukan relaksasi dan positive self talk therapy serta banyak melakukan kegiatan sosial.

Selanjutnya, pemberian ASI pertama yang mengandung kolostrum ketika bayi lahir, juga pemberian ASI Eksklusif selama enam bulan. Hal tersebut harus dilakukan bersama-sama dengan suami. Tanpa peran seorang Ayah, anak-anak akan tumbuh dengan prematur, para Ibu akan berubah menjadi pencemas dan tidak percaya diri. Bentuk dukungan yang bisa diberikan seorang Ayah adalah memberi pijatan pada istri, juga membantu mensterilkan alat-alat yang dibutuhkan selama menyusui.

Perhatian besar orangtua juga harus dicurahkan pada periode MPASI. Orangtua harus memastikan bahan makanan sehat telah tersedia, banyak sekali variannya mulai puree kentang, brokoli, tahu, ikan, daging, sayur dan tentu saja buah-buahan. Bila perlu, orang tua juga mencatat menu homemade harian untuk memastikan pemberian gizi yang seimbang.

Selain itu, tentu saja bahagia! Prinsip utama dalam menyuapi anak adalah bahagia. Meluangkan waktu yang banyak bersama batita, bukan waktu sisa. Kedua orangtua, baik Ibu dan Ayah harus memiliki jadwal menyuapi anak, sehingga anak memiliki bonding atau kelekatan dengan kedua orangtua, bukan salah satunya saja. Pada saat menyuapi, orangtua harus mengajak anak berkomunikasi, menjelaskan nama makanan yang masuk ke mulutnya, menjelaskan rasanya seperti apa, serta kandungannya. Meski anak-anak belum memahami, namun hal tersebut bisa meningkatkan kemampuan linguistiknya kelak.

Selanjutnya, orang tua juga harus mengajarkan anak untuk makan menggunakan tangannya sendiri (Baby Led Weaning). Selain untuk belajar menggunakan motorik halus, anak-anak juga belajar mandiri, kepercayaan diri, dan keterampilan. Namun, teknin BLW harus tetap dilakukan ketika anak terlihat mampu dan ingin bereksplorasi. Bahan yang disiapkan biasanya bisa dipegang (finger food), potongan buah alpukat, apel, telur, sereal dan daging yang dimasak lembut. Selain itu, ajarkan anak untuk cuci tangan menggunakan sabun lalu membilasnya di air yang mengalir.

Sekali lagi, berbahagilah! Ketika menyuapi anak, mendisiplinkan anak, mengajarkan pola hidup sehat. Sebab, anak-anak yang tumbuh dengan bahagia akan lebih mudah untuk mencerna makanan, menyerap pengetahuan di lingkungan sekitar. Saya rasa, pemerintah sudah melakukan gerakan yang massif untuk edukasi pencegahan stunting, pemberian vaksin serta posyandu. Namun, tanpa peran orangtua mustahil untuk mewujudkan Indonesia bebas stunting.

Wahyu Saefudin
Wahyu Saefudin
Merupakan penulis buku Psikologi Pemasyarakatan