Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

PCNU Kota Singkawang

Andi Syafrani Diterima PCNU Kota Singkawang, Pengurus: Maunya Diskusi Lebih Lama

Berita Baru, Singkawang – Calon Ketua Tanfidziah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Barat yang diusung alim-ulama, Andi Syafrani melanjutkan safari silaturahmi ke PCNU Kota Singkawang, Kamis (16/06).

Bertempat di kediaman H Karmayadi (Bendahara PCNU Kota Singkawang), Syafrani diterima jajaran pengurus, antara lain H Edy Purwanto (Ketua Tanfidziah PCNU Kota Singkawang), H Daeng Abu Bakri (Wakil Rois Syuriah PCNU Kota Singkawang ), Abdullah (Wakil Sekretaris PCNU Kota Singkawang), dan Mansur (Wakil Ketua PCNU Kota Singkawang).

Acara silaturahmi sendiri diawali dengan perkenalan Andi Syafrani dan dilanjutkan diskusi terkait perkembangan teranyar situasi NU di Kota Singkawang. Di mana saat ini masyarakat nahdliyin berhadapan dengan paham keagamaan yang meninggalkan tradisi masyarakat.

“Munculnya pandangan yang menolak adat dan praktik keagamaan yang sudah biasa terjadi di masyarakat membuat kohesi warga menjadi rentan,” kata Edy Purwanto mengawali diskusi.

Mansur pun mengonfirmasi persoalan kultural NU di lapangan yang disampaikan oleh Ketua PCNU Kota Singkawang. Dia menceritakan salah satu masjid pernah ada imam yang ribut dengan makmum karena perbedaan pandangan.

Menanggapi persoalan tersbut, Syafrani mengatakan perlu strategi penguatan struktural dan kultural NU di Kalbar.

“Selain melibatkan ulama, pengurus NU harus mampu juga menjadi juru bicara manhaj Aswaja al nahdhiyah dengan menguasai literatur klasik ulama, sebab pengurus adalah garda depan gerakan NU,” jawab Syafrani.

Syafrani juga menjelaskan, amaliah NU seperti tahlil dan pembacaan barzanji sudah terbukti merupakan variabel penting yang menjaga demokrasi dan membedakan Islam Indonesia dengan lainnya. “Hal itu lah yang membuat demokrasi kompatibel dengan Islam,” ujar Syafrani mengutip riset disertasi Saiful Mujani yang memperoleh penghargaan sebagai disertasi terbaik oleh Asosiasi Ilmu Politik Amerika Serikat.

“Temuan Saiful Mujani ini membantah tesis Huntington yang menuduh Islam tidak kompatibel dengan demokrasi. Kompatibilitas Islam dengan demokrasi di Indonesia didasarkan pada praktik amaliah NU yang tidak ada di negara muslim demokrasi lainnya di dunia,” tambahnya.

Para peserta silaturhami yang hadir sebenarnya ingin melanjutkan obrolan santai dan bermanfaat tersebut.

“Inginnya lanjut obrolan sampai pagi kalau tidak ingat waktu karena menarik,” kata Mansur.

Dia menyebut NU butuh figur yang bisa menjawab persoalan yang didiskusikan, menguasai agama dan juga politik, serta bisa diterima oleh semua pihak di Kalbar ini seperti sosok Andi Syafrani.

Sementara merespons majunya Andi Syafrani sebagai calon Ketua Tanfidziah PWNU Kalbar, Mansur menyampaikan siap patuh perintah ulama.

“Jika ulama sudah turun, maka sudah patut bagi kita untuk taat. Karena mereka pasti punya pandangan yang belum tentu dipahami secara lahiriah oleh kita yang awam,” terangnya.

Di akhir pertemuan, Syafrani menyerahkan pataka NU dan foto Rois ‘Am dan Ketum PBNU kepada Ketua PCNU Kota Singkawang. “Semoga silaturrahim ini berlanjut dan saya bisa diterima oleh pengurus PCNU Kota Singkawang,” tutup Syafrani.