Berita

 Network

 Partner

anak wayang
pixabay

Anak Wayang | Cerpen Sriwiyanti

Sebuah pos ronda tengah dikerubungi warga. Pagi yang dipenuhi teriakan saling tuding. Bagaimana tidak, desa yang semula aman. Sudah sepekan ini dikunjungi maling. Seorang warga menangis kehilangan motornya. Ia memaki-maki para penjaga ronda yang ketiduran.

Dari jalan setapak di dekat kuburan, muncul seorang remaja berperawakan tinggi. Mengayuh sepeda menuju kerumunan. Lalu berseru dengan wajah datar, “Sudah… Cukup! Kalau begini, desa kita akan kembali seperti dulu. Rusuh, berantakan, banyak kejahatan. Apa kalian mau? Salam dari Pak Haji, kita akan musyawarah selepas magrib di balai desa.”

Semuanya terdiam, lalu berbalik ke aktifitas masing-masing. Meski tampak ganjil, puluhan warga dewasa malah patuh pada perintah seorang remaja tanggung. Namun, bagi mereka, sudah sepantasnya Anto begitu. Bapaknya haji sekaligus kyai, PNS guru, tokoh agama. Jika tak ada Haji Ridwan, pasti masih menjamur remaja minum oplosan, main judi, merampok.

Ya, kemahiran dan keluhuran Anto mengamini pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Ketika Haji Ridwan jatuh sakit. Anto pasang badan, membantu ibu, datang pertama ke masjid untuk azan, mengajarkan anak-anak kampung mengaji. Anto tak memiliki geng seperti remaja lain, justru sibuk membaca buku dan belajar. Betapa Haji Ridwan patut berbangga.

Sore itu, Haji Ridwan mendekati anak semata wayangnya yang sedang belajar, menghitung jawaban soal matematika. “Dua minggu lagi kenaikan kelas tiga SMA, sejak SD kamu tak pernah mengecewakan Bapak. Besok, sudah pasti sama, kamu yang juara.”

“Iya, Pak.”

Haji Ridwah terkekeh, kemudian masuk ke kamarnya. Mendapati istrinya melipat selimut. “Tak salah aku mendisiplinkan Anto sedari kecil. Meskipun kamu selalu mencegahku. Lihat hasilnya.”

“Iya, tapi Anto terlalu pendiam dan terlalu fokus belajar.”

“Loh, pendiam itu justru bagus. Terlihat berwibawa dan penuh tanggung jawab. Daripada anak-anak lain yang ribut dan bikin onar. Coba kamu lihat, memimpin musyawarah warga pun, dia bisa. Siapa yang tidak menganggap Anto hebat. Itu yang paling penting.”

“Iya, iya. Kamu yang paling benar, Mas.”

Haji Ridwan memakai sandalnya di teras, menaiki sepeda motor. Lalu tiba di pinggir kolam ikan Sadri, bersama dua warga desa lain. Merokok, minum kopi, sambil bercerita tentang maling semalam.

“Besok, tak akan kulepas jahannam itu. Gara-gara maling sialan, mereka menuduh aku pelakunya,” ujar Sadri.

“Memang, kita harus tangkap. Bila perlu, ikat di pohon dan bakar hidup-hidup,” balas seorang warga.

“Saya sih curiga sama dua pemuda yang baru lepas dari penjara.” Suara Haji Ridwan setengah berbisik

“Betul itu, Pak Haji. Saya juga sejak awal merasa aneh. Mereka pakai anting, pakai kalung rantai, rambutnya dicat merah, mabuk-mabukan lagi. Patut kita curigai.”

Anto muncul mengayuh sepeda di jalan berbatu. Ia mengenakan seragam putih abu lengkap dengan topi garuda. Peluh membasahi wajahnya yang meski masih remaja tampak kokoh, matanya bening, hidungnya bangir. Karena keringat, kulit putihnya memerah. Ia mengucapkan salam dengan wajah datar. Lalu menyalami semua warga yang duduk, terutama bapaknya, yang ia cium punggung dan telapak tangannya bolak-balik.

“Seandainya semua remaja di desa ini seperti Anto. Ramah, sopan, gagah. Tak terbayangkan betapa damainya.” Sadri bermonolog sambil berdecak kagum. Anto hanya membalas dengan tersenyum.

Rasa bangga bergulung-gulung dalam dada Haji Ridwan. Di jalan pulang, ia berbisik pada anaknya, “Besok, bapak tunggu pengumuman juara, ya. Bapak pasti maju ke depan kan, seperti tahun-tahun yang lalu. Nah, musyawarah warga nanti malam. Bapak undur ke besok petang.”

“Iya, Pak.”

 “Bagus, besok petang bisa sekalian bawa pialamu ke balai desa. Mereka senang sama kamu, teladan buat anak-anaknya.”

Anto tersenyum lalu mengangguk.

Malam itu, pos ronda dipenuhi dua tim sekaligus. Mereka tak akan lengah lagi. Haji Ridwan pun turun tangan. Sepanjang malam, tim ronda siaga di setiap sudut desa. Mereka berpencar pada pergantian jam, setelah tok tok kentungan dari bambu dibunyikan keras-keras. Hingga terdengar suara kokok ayam. Barulah mereka meringkuk di dalam sarung masing-masing. Mengeratkan jaket tipis yang dibeli di pasar Kamis.

Ketika terdengar azan subuh, dua tukang bangunan melewati pos ronda menggunakan motor bebek. Mereka menuju rumah kontrakannya di seberang sungai. Ketika berpapasan dengan Haji Ridwan, kedua tukang bangunan menyapa dengan senyum lebar. Bau alkohol menyeruak. Haji Ridwan bertambah yakin, tak akan meleset perkiraannya.

Matahari muncul malu-malu dari balik rimbun pohon bambu di dekat rumah Haji Ridwan. Ia memakai seragam PNS guru berwarna cokelat. Ibu Ridwan memoles bedak dan gincu. Satu-satunya tradisi sekolah SMA Unggulan yang begitu ia sukai, momen kenaikan kelas yang bertepatan dengan rapat walimurid. Sehingga ia bisa mendengar nama anaknya disebut-sebut dengan penuh kebanggaan.

Tak meleset, Anto memang pintar. Tak pernah sekali pun ia absen dari juara kelas. Hari itu pun sama. Semakin subur rasa bangga yang tumbuh dalam dada Haji Ridwan. Ia menghampiri Anto yang duduk menatap lantai. “Bapak sudah pastikan kamu diterima di Fakultas Kedokteran. Tinggal penuhin nilai ujian akhir. Jangan sampai merosot.”

Selepas magrib, ketika musyawarah desa. Nama Anto semakin santer disebut dan disanjung. Rencana awal untuk menginterogasi kedua tukang bangunan pun luput. Mereka tak henti-hentinya membahas bagaimana bisa Haji Ridwan mendidik anak seperti Anto.

Hingga larut malam, perkumpulan itu pun bubar. Haji Ridwan dan empat warga desa pulang bersama, melewati rumah-rumah warga yang sebagian gelap karena tak ada penerangan. Persis di depan sebuah rumah bercat hijau, terdengar teriakan nyaring dari dalam.

“Mali….ng…,”

Dari samping rumah yang dibatasi pagar setinggi dada, melompat seorang laki-laki menggunakan penutup wajah yang hanya memperlihatkan mata dan bibirnya. Ia berlari ke area persawahan yang gelap, dipenuhi tumbuhan tembakau setinggi manusia dewasa.

Tanpa berpikir panjang, Haji Ridwan dan keempat warga desa berlari mengejar. Pemilik rumah pun segera membuka gerbang, menyusul dengan membawa senter dan parang. Sialnya, tanaman tembakau itu membuat mereka kesulitan.

Mereka pun berpencar, ke tengah tembakau, ke kebun melon, sedangkan Haji Ridwan berlari sendirian ke area pematang sawah, sembari mengangkat sarungnya setinggi betis, melilit sorbannya ke belakang, menggenggam erat batu di tangan kanan. Langkahnya terhenti, ia melihat sesosok pria dibaluti pakaian hitam bersandar di dekat pematang sawah. Meski wajah pria itu tertutup, Haji Ridwan tahu, sepasang mata itu menatap tajam, seolah hendak memangsanya.

Ia menelan ludah, keringat tiba-tiba membasahi punggung di kemeja batiknya. Rasa takut itu menjalar dari kepala hingga kakinya bergetar. Ia bertekad maju menangkap maling itu sendiri. Namun, sebuah suara yang ia kenal tiba-tiba meruntuhkan nyalinya.

“Bapak mau menangkap saya sekarang?” ucap pria di hadapannya sembari bangkit dari tempat duduk. Mereka hanya berjarak dua meter.

“Anto? Dimana kamu?”

“Saya berdiri persis di hadapan Bapak.”

“Tidak mungkin. Kamu tidak mungkin anak saya!” ia berjalan mundur. Tapi, pria itu mendekati Haji Ridwan, pelan.

“Kamu memang tidak punya anak. Kamu hanya punya wayang!” ia tertawa.

“Kamu mau apa, Anto? Pergi kamu! Berlari sekuat yang kamu mampu.”

“Supaya apa?” ia kembali tertawa lebih keras.

“Jangan mencoreng muka bapakmu!”

“Tidak, bapak tak akan sempat merasakan malu. Sebab, ketika aku tertangkap, hanya ada mayatmu!” Pria itu membuka penutup wajahnya. Mengangkat kedua tangannya yang membawa pistol berwarna hitam. Ia mengarahkannya tepat dua jengkal dari kening Haji Ridwan.

“Kamu pasti bukan anak saya! Anto tak mungkin menyentuh benda seperti itu.”

“Anakmu itu wayang. Ia bisa menjadi berbagai karakter.”

“Apa maumu?”

“Saya hanya ingin membeli benda ini untuk membunuhmu!”

“Tidak! Kamu tak akan melakukannya! Aku ini bapakmu!”

“Wayang tak punya bapak,” ucapnya datar, lalu menekan pelatuk senjatanya dengan jari telunjuk.

Dor! Letusan itu memecahkan malam. Suara jangkrik menghilang. Senyap. Seluruh warga berhenti mengejar maling, lalu berlari ke sumber suara. Sadri yang datang lebih dulu, menemukan Haji Ridwan tergeletak di dekat pematang sawah. Ia pun meraba-raba mencari luka. Tak ada sedikit pun. Bahu Haji Ridwan tiba-tiba berguncang tanpa isak, menatap kosong seonggok tubuh bersimbah darah.


Sriwiyanti
Sriwiyanti, seorang sastrawan yang lebih dikenal dengan nama Yanti Hanahime. Beberapa karyanya dalam bentuk Novel dan Cerpen sudah tersebar di pasaran.